Dalam pemahaman iman Katolik, Allah
selalu menjadi pihak pertama yang mengambil inisiatif. Ia menyatakan diri
melalui wahyu, bukan hanya untuk memberi informasi, melainkan agar manusia
dapat mengenal-Nya dan masuk dalam persekutuan kasih. Konsili Vatikan I
menegaskan bahwa Allah dapat dikenal lewat ciptaan (wahyu alamiah), tetapi
puncak wahyu terletak pada penyataan diri Allah sendiri melalui Yesus Kristus
(wahyu adialamiah). Konsili Vatikan II kemudian memperdalam pengertian ini
dengan menyatakan bahwa wahyu adalah perjumpaan personal, di mana Allah menyapa
manusia sebagai sahabat. Wahyu tidak hanya terjadi lewat perkataan, tetapi juga
perbuatan, dan keduanya mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus.
Wahyu sendiri memiliki sifat-sifat
yang mendasar. Pertama, wahyu adalah misteri ilahi, sebab merupakan tindakan
Allah yang transenden dan tak terselami. Kedua, wahyu bersifat historis karena
diwujudkan Allah dalam peristiwa nyata sepanjang sejarah keselamatan. Ketiga,
wahyu juga mengandung aspek pengetahuan, sebab lewat para nabi, Kristus, dan
pewartaan Gereja, Allah menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Terakhir, wahyu memiliki
dimensi personal, yaitu perjumpaan antara Allah dan manusia, di mana manusia
menanggapi sapaan Allah dengan menyerahkan diri. Puncak wahyu ini nyata dalam
Yesus Kristus, karena dalam diri-Nya hadir seluruh kepenuhan ke-Allah-an.
Melalui pewahyuan-Nya, Allah juga
menampakkan kebijaksanaan yang melampaui akal budi manusia. Namun, di tengah
perkembangan zaman yang dipenuhi dengan rasionalisme dan relativisme muncul
pertanyaan “Apakah kebijaksanaan Allah masih relevan?” Jawabannya, sangat
relevan. Di tengah dunia yang sering mengandalkan rasionalitas dan teknologi,
kebijaksanaan Allah tetap menjadi penuntun bagi manusia untuk tidak berhenti
pada logika duniawi. Kebijaksanaan Allah mengingatkan bahwa tujuan terdalam
hidup manusia adalah persatuan dengan Allah. Relevansi ini bahkan semakin nyata
ketika manusia mencari makna di tengah perubahan zaman.
Terhadap wahyu Allah itu, manusia
dipanggil untuk memberi jawaban, yaitu melalui iman. Konsili Vatikan II
menjelaskan bahwa iman merupakan sikap bebas manusia yang menyerahkan diri
sepenuhnya kepada Allah. Iman bukan sekadar pengetahuan atau pengakuan, melainkan
penyerahan diri yang utuh dengan akal budi dan kehendak. Iman memiliki dua
aspek, yaitu isi iman, yakni apa yang dipercayai (terutama Allah Tritunggal
yang menyelamatkan manusia melalui Kristus), dan tindakan iman, yakni
penghayatan nyata dalam liturgi dan kehidupan sehari-hari.
Lalu, mengapa iman diperlukan untuk
menerima wahyu? Karena wahyu tidak bisa ditangkap hanya dengan akal budi. Wahyu
adalah pemberian diri Allah yang menuntut jawaban personal. Tanpa iman, wahyu
hanya berhenti sebagai informasi. Dengan iman, manusia sungguh mampu menerima
sapaan Allah dan menjadikannya dasar hidup. Rasul Yakobus menegaskan, “iman
tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:26). Artinya, iman sejati selalu menuntut
perwujudan konkret. Tidak cukup hanya percaya, tetapi iman harus diwujudkan
dalam tindakan nyata, baik dalam relasi dengan Allah maupun dalam sikap
terhadap sesama.
Ada kasus nyata di Indonesia yang memperlihatkan hal ini,
yaitu persoalan intoleransi antarumat beragama. Beberapa kali kita mendengar
penolakan pembangunan rumah ibadah atau perlakuan diskriminatif terhadap
kelompok agama tertentu. Banyak orang mengaku beriman, rajin beribadah, bahkan
membawa simbol-simbol keagamaan, tetapi tindakannya justru bertentangan dengan
kasih yang diajarkan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa iman tanpa perbuatan
kasih hanyalah formalitas belaka. Padahal, wahyu Allah yang mencapai puncaknya
dalam Yesus Kristus menekankan persaudaraan, perdamaian, dan kasih kepada semua
orang tanpa membeda-bedakan. Kasus intoleransi menjadi contoh nyata bagaimana
kebijaksanaan Allah masih sangat relevan, karena tanpa mengikuti jalan-Nya, iman
hanya menjadi kata-kata saja.
Bagi saya pribadi, materi ini
meneguhkan bahwa iman dan wahyu tidak bisa dipisahkan. Saya teringat pengalaman
sederhana ketika menghadapi kesulitan studi. Saya bisa saja berkata percaya
pada Allah, tetapi jika saya tidak berusaha belajar, iman itu menjadi sia-sia.
Justru ketika saya berusaha sambil berdoa, saya merasakan bahwa Allah hadir
dalam situasi itu, dan iman saya menjadi nyata dalam tindakan. Karena itu, iman
dan wahyu harus terus berjalan bersama, wahyu menegaskan inisiatif Allah yang
lebih dahulu menyapa manusia, sedangkan iman menunjukkan tanggapan manusia yang
terbuka kepada kasih itu. Saat Allah menyapa, kita dipanggil untuk menjawab
dengan iman yang hidup, iman yang berbuah dalam perbuatan, dan iman yang
membawa kita semakin dekat dalam persahabatan dengan Allah.



Comments
Post a Comment