Relevansi Wahyu dan Iman dalam Kehidupan Beriman Masa Kini


(Sumber Gambar: https://id.pngtree.com/freebackground/
a-dove-over-the-bible-and-cross_12759095.html)

Dalam pemahaman iman Katolik, Allah selalu menjadi pihak pertama yang mengambil inisiatif. Ia menyatakan diri melalui wahyu, bukan hanya untuk memberi informasi, melainkan agar manusia dapat mengenal-Nya dan masuk dalam persekutuan kasih. Konsili Vatikan I menegaskan bahwa Allah dapat dikenal lewat ciptaan (wahyu alamiah), tetapi puncak wahyu terletak pada penyataan diri Allah sendiri melalui Yesus Kristus (wahyu adialamiah). Konsili Vatikan II kemudian memperdalam pengertian ini dengan menyatakan bahwa wahyu adalah perjumpaan personal, di mana Allah menyapa manusia sebagai sahabat. Wahyu tidak hanya terjadi lewat perkataan, tetapi juga perbuatan, dan keduanya mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus.

Wahyu sendiri memiliki sifat-sifat yang mendasar. Pertama, wahyu adalah misteri ilahi, sebab merupakan tindakan Allah yang transenden dan tak terselami. Kedua, wahyu bersifat historis karena diwujudkan Allah dalam peristiwa nyata sepanjang sejarah keselamatan. Ketiga, wahyu juga mengandung aspek pengetahuan, sebab lewat para nabi, Kristus, dan pewartaan Gereja, Allah menyampaikan rencana keselamatan-Nya. Terakhir, wahyu memiliki dimensi personal, yaitu perjumpaan antara Allah dan manusia, di mana manusia menanggapi sapaan Allah dengan menyerahkan diri. Puncak wahyu ini nyata dalam Yesus Kristus, karena dalam diri-Nya hadir seluruh kepenuhan ke-Allah-an.

Melalui pewahyuan-Nya, Allah juga menampakkan kebijaksanaan yang melampaui akal budi manusia. Namun, di tengah perkembangan zaman yang dipenuhi dengan rasionalisme dan relativisme muncul pertanyaan “Apakah kebijaksanaan Allah masih relevan?” Jawabannya, sangat relevan. Di tengah dunia yang sering mengandalkan rasionalitas dan teknologi, kebijaksanaan Allah tetap menjadi penuntun bagi manusia untuk tidak berhenti pada logika duniawi. Kebijaksanaan Allah mengingatkan bahwa tujuan terdalam hidup manusia adalah persatuan dengan Allah. Relevansi ini bahkan semakin nyata ketika manusia mencari makna di tengah perubahan zaman.

(Sumber Gambar: https://cdn.rri.co.id/berita/Kupang/o/1716722960082
-shutterstock_258766883/onkh8igs9s67yr2.jpeg) 

Terhadap wahyu Allah itu, manusia dipanggil untuk memberi jawaban, yaitu melalui iman. Konsili Vatikan II menjelaskan bahwa iman merupakan sikap bebas manusia yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Iman bukan sekadar pengetahuan atau pengakuan, melainkan penyerahan diri yang utuh dengan akal budi dan kehendak. Iman memiliki dua aspek, yaitu isi iman, yakni apa yang dipercayai (terutama Allah Tritunggal yang menyelamatkan manusia melalui Kristus), dan tindakan iman, yakni penghayatan nyata dalam liturgi dan kehidupan sehari-hari.

Lalu, mengapa iman diperlukan untuk menerima wahyu? Karena wahyu tidak bisa ditangkap hanya dengan akal budi. Wahyu adalah pemberian diri Allah yang menuntut jawaban personal. Tanpa iman, wahyu hanya berhenti sebagai informasi. Dengan iman, manusia sungguh mampu menerima sapaan Allah dan menjadikannya dasar hidup. Rasul Yakobus menegaskan, “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:26). Artinya, iman sejati selalu menuntut perwujudan konkret. Tidak cukup hanya percaya, tetapi iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata, baik dalam relasi dengan Allah maupun dalam sikap terhadap sesama.

(Sumber Gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=
tbn:ANd9GcQCQD4NItsn32rDPMjru83rqCXm3aRiUI9pBw&s)

            Ada kasus nyata di Indonesia yang memperlihatkan hal ini, yaitu persoalan intoleransi antarumat beragama. Beberapa kali kita mendengar penolakan pembangunan rumah ibadah atau perlakuan diskriminatif terhadap kelompok agama tertentu. Banyak orang mengaku beriman, rajin beribadah, bahkan membawa simbol-simbol keagamaan, tetapi tindakannya justru bertentangan dengan kasih yang diajarkan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa iman tanpa perbuatan kasih hanyalah formalitas belaka. Padahal, wahyu Allah yang mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus menekankan persaudaraan, perdamaian, dan kasih kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Kasus intoleransi menjadi contoh nyata bagaimana kebijaksanaan Allah masih sangat relevan, karena tanpa mengikuti jalan-Nya, iman hanya menjadi kata-kata saja.

Bagi saya pribadi, materi ini meneguhkan bahwa iman dan wahyu tidak bisa dipisahkan. Saya teringat pengalaman sederhana ketika menghadapi kesulitan studi. Saya bisa saja berkata percaya pada Allah, tetapi jika saya tidak berusaha belajar, iman itu menjadi sia-sia. Justru ketika saya berusaha sambil berdoa, saya merasakan bahwa Allah hadir dalam situasi itu, dan iman saya menjadi nyata dalam tindakan. Karena itu, iman dan wahyu harus terus berjalan bersama, wahyu menegaskan inisiatif Allah yang lebih dahulu menyapa manusia, sedangkan iman menunjukkan tanggapan manusia yang terbuka kepada kasih itu. Saat Allah menyapa, kita dipanggil untuk menjawab dengan iman yang hidup, iman yang berbuah dalam perbuatan, dan iman yang membawa kita semakin dekat dalam persahabatan dengan Allah.


Comments