Gereja sejak awal dipahami sebagai persekutuan yang berasal dari Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus, dan berkembang dalam perjalanan sejarah. Dari pengalaman panjang itu, Gereja merefleksikan dirinya dan menemukan empat ciri utama yang dikenal sampai sekarang, yakni satu, kudus, katolik, dan apostolik. Keempat ciri ini bukan hanya rumusan dalam syahadat, melainkan tanda nyata bahwa Gereja hadir sebagai sarana keselamatan Allah bagi manusia.
Kesatuan menjadi hal pertama yang ditegaskan Gereja. Paulus dalam 1 Korintus 12:13 menulis bahwa semua orang dibaptis dalam satu Roh untuk menjadi satu tubuh. Begitu pula Galatia 3:28 menegaskan bahwa semua adalah satu dalam Kristus. Bapa Gereja, seperti St. Siprianus, menekankan bahwa kesatuan Gereja berakar dalam kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Karena itu, sejak Konsili Konstantinopel tahun 381, syahadat memasukkan rumusan “Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik” untuk mempertegas identitas ini.
Namun, perjalanan sejarah menunjukkan bahwa kesatuan Gereja juga penuh tantangan. Perpecahan antara Gereja Timur dan Barat, hingga lahirnya berbagai denominasi Protestan, membuat wajah Gereja tampak terbelah. Meskipun begitu, Gereja Katolik tetap percaya bahwa Kristus terus mempersatukan umat-Nya. Kesatuan tidak harus berarti seragam, melainkan bisa dipahami seperti “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu iman. Dengan begitu, kesatuan yang sejati tidak berhenti pada struktur organisasi, melainkan berakar pada Injil yang dirayakan dan dihidupi bersama.
Selain kesatuan, Gereja juga diyakini kudus. Efesus 5:27 melukiskan Gereja sebagai “yang kudus,” suatu sebutan yang sebenarnya sudah berakar dalam Perjanjian Lama. Konsili Vatikan II menegaskan kembali dalam Lumen Gentium bahwa Gereja tidak kehilangan kesuciannya, sebab Kristus yang kudus mengasihinya sebagai mempelai-Nya. Kekudusan ini bukan karena umatnya tanpa dosa, tetapi karena Kristus menguduskan Gereja melalui sabda, sakramen, dan karya Roh Kudus.
Kekudusan ini tampak dalam banyak hal. Bukan hanya lewat tokoh besar atau para santo-santa, tetapi juga dalam kehidupan umat biasa yang setia. Gereja adalah tempat kehadiran Allah yang nyata, dan setiap orang yang dibaptis dipanggil menjadi “umat kudus Allah.” Maka, kekudusan tidak bisa diartikan hanya sebagai kesempurnaan moral, melainkan keterarahan kepada Allah yang tampak dalam iman, harapan, dan kasih sehari-hari.
Selain itu, Gereja disebut katolik karena sifatnya yang universal. Gereja hadir di berbagai tempat, merangkul semua bangsa, bahasa, dan budaya. Namun, kekatolikan tidak hanya berarti tersebar luas, melainkan juga menjaga keutuhan iman yang sama di manapun umat merayakan. Kekatolikan ini berjalan seiring dengan sifat apostolik, sebab Gereja tidak hanya luas, tetapi juga tetap berakar pada pewartaan para rasul.
Bagi saya, keempat sifat ini bisa dirasakan dalam pengalaman nyata. Di stasi saya, setiap malam Natal maupun malam Paskah, perayaan Ekaristi sering menggunakan bahasa Jawa krama. Walaupun saya sendiri tidak terlalu paham bahasa krama, saya tetap merasa satu dengan umat di sana karena iman yang dirayakan sama. Pengalaman itu meneguhkan bahwa kesatuan Gereja tidak bergantung pada bahasa, melainkan pada Kristus yang sama-sama kami imani.
Saya juga merasakan sifat katolik ketika bertemu teman-teman Katolik dari daerah lain. Walaupun cara mereka beribadah sedikit berbeda, misalnya pada bagian duduk, berdiri, atau berlutut yang tidak selalu sama seperti di tempat saya, kami tetap merayakan Ekaristi yang sama. Dan setiap kali mendengarkan homili imam, saya merasa ajaran para rasul kembali dihidupkan dalam Gereja saat ini. Dari situ saya sadar bahwa keapostolikan bukan sekadar teori, tetapi sungguh nyata dalam pewartaan yang terus berlanjut.
Dari semua pengalaman itu, saya semakin mengerti bahwa keempat sifat Gereja bukan hanya rumusan dalam syahadat, melainkan tanda nyata keselamatan Allah. Kesatuan, kekudusan, kekatolikan, dan keapostolikan membuat Gereja tetap hidup, relevan, dan terus menghadirkan Kristus bagi dunia hingga saat ini. Dengan menyadari dan menghidupi keempat sifat ini, kita diajak untuk semakin setia dalam iman dan mengambil bagian dalam perutusan Gereja sebagai sarana keselamatan bagi semua orang.
Comments
Post a Comment