Gereja sebagai Sarana Menemukan dan Menghidupi Communio di Tengah Kehidupan

 

(Sumber Gambar: Pinterest)

    Di tengah kesibukan hidup sehari-hari, manusia sering mencari makna terdalam dari relasi, baik dengan sesama maupun dengan diri sendiri. Namun, lebih dari itu, kerinduan utama manusia adalah memiliki hubungan atau persekutuan dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen. Inilah inti kehidupan iman yang bukan sekadar rutinitas religius, tetapi pengalaman nyata akan kasih Allah yang menyentuh, menyelamatkan, dan menghidupkan.

    Ajaran Konsili Vatikan II yang ditegaskan kembali oleh Sinode para Uskup tahun 1985 menempatkan Gereja sebagai communio, yakni persekutuan. Istilah communio, yang merupakan terjemahan Latin dari kata Yunani koinonia, harus dipahami dalam terang Kitab Suci. Sinode menegaskan artinya sebagai “hubungan atau persekutuan (communio) dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam sakramen.” Di sinilah tampak sifat Gereja yang sakramental dan penuh misteri, sebab communio dimengerti secara dinamis sebagai relasi hidup dengan Allah, bukan semata organisasi manusiawi.

    Selain itu, paham communio menjadi dasar bagi komunikasi di antara umat beriman. Kesatuan dalam Gereja tidak meniadakan keanekaragaman, melainkan justru memperkaya. Roh Kuduslah yang menciptakan persekutuan mengagumkan ini, dengan membagikan aneka rahmat dan pelayanan (UR 2). Dengan demikian, keanekaragaman karunia dan pelayanan bukanlah penghalang, melainkan sarana untuk membangun kesatuan dalam kasih.

    Struktur organisatoris Gereja, terutama kepemimpinan Petrus, dipahami sebagai asas dan dasar kesatuan iman serta persekutuan yang tetap dan kelihatan (LG 18). Namun, communio sejati pada dasarnya adalah karya Roh Kudus dalam diri umat beriman (LG 4). Karena itu, persekutuan Gereja tidak dapat dijelaskan hanya dengan kategori sosiologis atau organisatoris. Memang ada unsur insani dalam kehidupan Gereja, tetapi dimensi utamanya adalah misteri ilahi yang hadir dan bekerja melalui sakramen.

    Dari sini terlihat dua dimensi communio yang tidak terpisahkan secara vertical yakni persekutuan dengan Allah, dan horizontal yaitu persekutuan kasih antarumat beriman. Dimensi ini ditegaskan kembali oleh Kongregasi Ajaran Iman (1992) yang menekankan pentingnya hubungan dengan Allah melalui Kristus, sekaligus hubungan dengan sesama yang melibatkan aspek hierarkis dan institusional. Menekankan salah satu dimensi secara berlebihan akan merugikan yang lain.

    

(Sumber Gambar: https://parokikotabaru.org/wp-content/uploads/2025/07/web-2-5.jpg)

    Menghayati Gereja sebagai communio membantu kita untuk melihat bahwa inti kehidupan iman bukanlah sekadar kewajiban, tetapi sebuah relasi yang hidup dengan Allah. Sakramen menjadi pintu masuknya, melalui Baptisan kita diangkat sebagai anak Allah, dan melalui Ekaristi kita dipersatukan dalam Tubuh Kristus. Di sini jelaslah bahwa iman bukan hanya urusan pribadi, melainkan persekutuan yang mempersatukan kita dengan Allah dan sesama. Pengalaman ini sering terasa nyata dalam perayaan Ekaristi. Saat menerima Komuni Kudus, saya menyadari bahwa Kristus yang hadir dalam diri saya juga hadir dalam umat lain di sekitar saya. Walau berbeda latar belakang, profesi, dan keadaan hidup, kami dipersatukan dalam satu Tubuh Kristus. Inilah communio yang tampak sederhana tetapi mendalam, Allah menyatukan yang beragam menjadi satu keluarga besar. 

    Namun, communio tidak berhenti di altar. Ia harus menjelma dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, misalnya, doa bersama menjadi tanda sederhana persekutuan kasih Allah. Dalam masyarakat, kepedulian terhadap orang miskin, sakit, atau kesepian adalah wujud nyata dari communio yang lahir dari Ekaristi. Kita dipanggil untuk membagikan rahmat yang kita terima dalam sakramen menjadi aksi nyata bagi sesama.

    Pada akhirnya, menemukan communio di sekitar kita berarti membuka mata untuk melihat Allah yang hadir dalam setiap relasi. Gereja menjadi tanda kasih Allah yang hadir di dunia justru ketika setiap anggotanya mewujudkan communio dalam sikap konkret, seperti saling mendukung, melayani, dan membangun persaudaraan. Sakramen yang kita rayakan memberi daya untuk menghadirkan kasih Allah dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, bahkan dunia digital. Karena itu, mari kita tidak hanya menemukan communio, tetapi juga menghidupinya. Dengan demikian, communio bukan hanya gagasan teologis, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari kita bersama.

Comments