Pewartaan Yesus berpusat pada Kerajaan Allah. Kerajaan ini bukan sekadar wilayah tertentu, melainkan pelaksanaan kekuasaan Allah yang memulihkan dunia dalam kasih-Nya, serta keadaan ketika kebenaran, keadilan, damai, dan sukacita ditegakkan dalam Roh Kudus. Yesus menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah lewat pewartaan dan tindakan-Nya: menolak kekerasan, menghadirkan berkat, membangkitkan harapan, dan membawa kehidupan baru bagi manusia.
Dari pewartaan itulah Gereja lahir. Konsili Vatikan II, khususnya dalam dokumen Lumen Gentium menegaskan bahwa Gereja adalah benih dan awal mula Kerajaan Allah yang sedang bertumbuh menuju kepenuhannya pada saat kedatangan Kristus yang kedua. Gereja disebut sakramen Kerajaan Allah, sebab keberadaannya tidak untuk dirinya sendiri, melainkan demi melayani rencana keselamatan Allah. Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa Gereja melayani Kerajaan Allah dengan menyebarkan nilai-nilai Injil ke seluruh dunia, sementara para Uskup menyatakan bahwa Gereja berada dalam dan demi Kerajaan Allah. John Fuellenbach bahkan merinci tiga perutusan Gereja: mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah hadir dalam Kristus, membentuk komunitas yang mencerminkan nilai Injil, serta terlibat dalam dialog dengan dunia dan agama lain untuk membangun keadilan, perdamaian, dan persaudaraan.
Kitab Suci menggambarkan Gereja dengan banyak lambang yang sarat makna.
Gereja adalah kawanan dengan Kristus sebagai Gembala, ladang Allah dengan Kristus
sebagai pokok anggur sejati, bangunan Allah yang didirikan di atas Kristus
sebagai batu sendi, serta Yerusalem baru, bunda, dan mempelai Kristus. Semua
gambaran ini memperlihatkan Gereja sebagai umat yang dipelihara Kristus,
dipersatukan dengan-Nya, dan diarahkan menuju kepenuhan kasih Allah.
Lebih dalam lagi, Gereja adalah misteri yang kelihatan sekaligus rohani. Ia
adalah umat Allah yang baru, lahir dari sabda Allah dan Roh Kudus, yang
dipanggil menjadi bangsa suci dan imamat rajawi. Gereja adalah sakramen yang
kelihatan, tanda kesatuan yang menyelamatkan, hadir di tengah sejarah manusia
tetapi sekaligus melampaui batas ruang dan waktu. Dalam dirinya, Kristus
melaksanakan rencana Allah untuk mempersatukan segala sesuatu. Karena itu,
Gereja disebut sebagai sakramen keselamatan universal, tanda dan sarana
persatuan mesra dengan Allah sekaligus persatuan umat manusia.
Bagi saya, pemahaman ini menegaskan bahwa Gereja bukan sekadar lembaga atau organisasi, melainkan tanda kasih Allah yang hidup. Gereja berakar pada kasih Allah yang hadir di dunia melalui Kristus dan diteruskan oleh Roh Kudus. Karena itu setiap orang beriman dipanggil untuk menghadirkan kasih itu dalam hidup nyata. Hal ini mengingatkan saya bahwa tugas menggereja tidak hanya berhenti pada doa dan liturgi, tetapi harus tampak dalam keadilan, kepedulian, dan persaudaraan.
Saya teringat pada pengalaman di stasi saya ketika umat bergotong royong
menyalurkan bantuan berupa sembako kepada orang sekitar yang dianggap
membutuhkan, tanpa membeda-bedakan agama atau latar belakang. Saat itu, saya
melihat Gereja sungguh menjadi tanda Kerajaan Allah. Di tengah kesulitan yang
dihadapi orang lain, kehadiran sederhana itu membawa harapan, sukacita, dan
rasa persaudaraan. Dari situ saya menyadari bahwa setiap tindakan kasih kecil
sekalipun dapat menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Dengan demikian,
Gereja bukanlah milik sekelompok orang tertentu, melainkan proyek kasih Allah
yang nyata dalam kehidupan, yang terus mewartakan Kerajaan Allah, menjadi
sakramen keselamatan, dan menghadirkan kasih yang menyatukan seluruh umat
manusia.

.jpg)
Comments
Post a Comment