Istilah sinode berasal dari bahasa Yunani, yaitu syn yang berarti “bersama” dan hodos yang berarti “jalan.” Dengan demikian, sinodalitas berarti “berjalan bersama.” Dalam konteks Gereja, sinodalitas menggambarkan kehidupan Gereja yang mengajak seluruh umat Allah untuk melangkah bersama menuju keselamatan dalam terang Roh Kudus. Gereja yang Sinodal bukan hanya sebuah sistem atau struktur organisasi, melainkan suatu cara hidup Gereja yang menampilkan wajah persekutuan, partisipasi, dan misi yang dijalankan secara bersama.
Sinodalitas menegaskan bahwa seluruh umat Allah baik uskup, imam, biarawan-biarawati, maupun umat awam memiliki martabat yang sama karena dipersatukan dalam baptisan. Setiap umat beriman memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi dalam kehidupan menggereja sesuai peran dan karunia yang diterimanya. Gereja yang Sinodal adalah Gereja yang mendengarkan, berdialog, dan membuka ruang bagi keterlibatan seluruh umat. Paus Fransiskus menegaskan bahwa sinodalitas merupakan “jalan yang Tuhan harapkan bagi Gereja di milenium ketiga,” sebab hanya melalui kebersamaan, Gereja dapat menjadi saksi kasih Allah yang hidup di dunia.
Sementara itu, Gereja yang Apostolik adalah Gereja yang berakar pada kesaksian dan ajaran para rasul, serta melanjutkan perutusan Kristus dalam sejarah. Kerasulan menunjukkan kesetiaan Gereja terhadap fondasi imannya yang diwariskan melalui para rasul dan dijaga oleh tradisi serta magisterium Gereja. Sifat kerasulan ini memastikan agar Gereja tidak menyimpang dari kebenaran Injil dan terus melaksanakan misi keselamatan bagi dunia. Maka, kerasulan bukan hanya menjadi tanggung jawab para uskup sebagai penerus para rasul, melainkan juga panggilan bagi seluruh umat beriman untuk menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Sinodalitas dan kerasulan merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan Gereja. Sinodalitas menekankan dinamika berjalan bersama dan keterlibatan seluruh umat, sedangkan kerasulan menegaskan kesetiaan terhadap ajaran dan perutusan Kristus. Sinodalitas tanpa kerasulan berisiko kehilangan arah dan dasar iman, sementara kerasulan tanpa semangat sinodal dapat menjadi tertutup dan kurang mendengarkan suara umat. Oleh karena itu, Gereja yang ideal adalah Gereja yang hidup dalam semangat sinodal sekaligus berakar kuat pada tradisi kerasulan.
Wajah Gereja yang sinodal dan apostolik tampak nyata dalam kehidupan Gereja Katolik di Indonesia. Pada tingkat paroki dan keuskupan, keterlibatan umat dalam Dewan Pastoral Paroki (DPP) menjadi wujud konkret partisipasi umat dalam kehidupan Gereja. Misalnya, di Keuskupan Agung Jakarta, pengambilan keputusan pastoral dilaksanakan secara musyawarah dengan melibatkan berbagai unsur Gereja, baik imam maupun umat awam. Dalam berbagai kegiatan pastoral seperti pelayanan sosial, liturgi, dan kategorial, umat diajak untuk berperan aktif sehingga Gereja sungguh menjadi “umat Allah yang berjalan bersama.”
Pada tingkat nasional, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menjadi bentuk nyata sinodalitas yang berakar pada kerasulan. Melalui sidang-sidang tahunan, para uskup dari seluruh Indonesia bersama-sama mendengarkan, berdialog, dan merumuskan arah pastoral Gereja sesuai konteks zaman. Salah satu hasil konkret dari proses ini adalah Arah Dasar Pastoral Gereja Katolik Indonesia (2016–2035) yang menegaskan pentingnya keterlibatan umat dalam kehidupan sosial, perlindungan lingkungan hidup, dan dialog antaragama. Nilai-nilai tersebut mencerminkan sinodalitas yang dijalankan dalam kesetiaan terhadap misi kerasulan Gereja universal.
Di tingkat universal, Gereja menunjukkan semangat sinodal dan kerasulannya melalui ajaran dan dokumen Gereja yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus, seperti Laudato Si’ dan Fratelli Tutti. Kedua dokumen ini mengajak seluruh umat beriman untuk membangun persaudaraan sejati dan bertanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan. Semangat ini juga tampak dalam Gereja Katolik di Indonesia, misalnya melalui keterlibatan umat Katolik dalam gerakan peduli lingkungan hidup, pelayanan lintas iman, serta solidaritas bagi korban bencana alam. Semua bentuk aksi nyata tersebut memperlihatkan bagaimana Gereja hidup dalam kebersamaan sinodal sambil tetap setia pada misi kerasulan Kristus.
Dengan demikian, Gereja yang Sinodal dan Gereja yang Apostolik bukanlah dua realitas yang terpisah, melainkan dua sisi yang saling melengkapi dalam kehidupan Gereja. Sinodalitas menumbuhkan semangat kebersamaan, partisipasi, dan keterbukaan terhadap Roh Kudus, sedangkan kerasulan menegaskan kesetiaan terhadap ajaran dan perutusan yang diwariskan para rasul. Dalam kesatuan keduanya, Gereja menjadi persekutuan yang setia, bersaudara, dan misioner umat Allah yang berjalan bersama menuju kepenuhan Kerajaan Allah.
Comments
Post a Comment