Pemahaman tentang keselamatan dalam tradisi teologi Kristen berkembang dalam beragam corak. Di Gereja Timur, keselamatan dimengerti sebagai deifikasi (pengilahian), di mana Allah menjadi manusia agar manusia dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Fokusnya terletak pada inkarnasi sebagai momen ketika yang Ilahi masuk ke dalam dunia. Sebaliknya, di Gereja Barat sejak Abad Pertengahan, dominan paradigma satisfactio (silih), yang menekankan sengsara dan wafat Yesus di salib sebagai silih atas dosa manusia. Dua pendekatan ini, meski berakar pada iman yang sama, kerap hanya menyoroti sebagian dari kekayaan makna keselamatan yang hadir dalam keseluruhan peristiwa Yesus Kristus.
Teolog modern seperti Edward Schillebeeckx mencoba melampaui keterbatasan itu dengan menegaskan bahwa keselamatan tidak hanya hadir dalam kelahiran atau kematian Kristus, tetapi juga dalam hidup dan karya pewartaan-Nya. Schillebeeckx menyebut keseluruhan eksistensi Yesus, pribadi, perkataan, perbuatan, wafat, dan kebangkitan sebagai “Peristiwa Yesus Kristus”, yakni pewahyuan diri Allah yang menyelamatkan. Dalam diri dan hidup Yesus, Allah bertindak dan hadir sebagai kasih yang membebaskan. Kebangkitan Kristus menjadi tanda bahwa Allah membenarkan hidup dan pewartaan-Nya, serta menegaskan bahwa kasih dan keadilan Allah memiliki kuasa atas dosa dan kematian. Dengan demikian, peristiwa Kristus adalah peristiwa universal, di mana Allah menyatakan diri-Nya sebagai “Deus humanissimus”, Allah yang sangat manusiawi, yang kasih-Nya membebaskan manusia dari segala bentuk keterasingan dan dosa.
Sementara itu, Karl Rahner mengembangkan pemahaman keselamatan yang berakar pada kehendak universal Allah untuk menyelamatkan semua manusia. Bagi Rahner, kasih Allah bukanlah akibat dari dosa manusia, tetapi realitas yang telah ada sejak awal, mendahului segala kesalahan manusia. Manusia sejak awal adalah makhluk yang terarah kepada rahmat Allah, dan keselamatan berarti keterlibatan dalam pemberian diri Allah yang mutlak. Karena itu, soteriologi tidak boleh dipersempit hanya sebagai penghapusan dosa, melainkan dipahami sebagai pemberian rahmat yang memampukan manusia untuk mengalahkan kuasa dosa. Rahner juga menolak pandangan bahwa inkarnasi hanya terjadi karena dosa. Baginya, inkarnasi adalah tindakan kasih bebas Allah yang ingin mengomunikasikan diri-Nya kepada manusia. Tindakan kasih yang tetap akan terjadi sekalipun manusia tidak berdosa. Dengan demikian, inkarnasi, salib, dan kebangkitan merupakan wujud konkret dari kasih Allah yang lebih dahulu hadir.
Melalui gagasan Schillebeeckx dan Rahner, saya semakin memahami bahwa keselamatan bukan hanya tentang akhir hidup manusia, tetapi tentang bagaimana Allah hadir dan bekerja dalam seluruh perjalanan hidup Yesus. Dari kelahiran, pelayanan, penderitaan, wafat, hingga kebangkitan-Nya, semuanya adalah wujud nyata kasih Allah bagi manusia. Sebagai seorang mahasiswa, saya belajar bahwa iman kepada Kristus tidak boleh berhenti pada salib saja, tetapi harus mencakup seluruh hidup-Nya yang menjadi tanda kasih Allah yang menyelamatkan.
Pemahaman ini menolong saya melihat bahwa keselamatan bukan sekadar konsep rohani yang jauh dari kehidupan nyata. Keselamatan adalah pengalaman konkret ketika kasih Allah menyentuh dan mengubah hidup manusia. Dalam dunia modern yang sering kehilangan arah dan harapan, saya melihat bahwa peristiwa Yesus Kristus menjadi tanda bahwa Allah tidak pernah meninggalkan manusia. Inkarnasi menunjukkan kedekatan Allah, salib memperlihatkan solidaritas-Nya dengan yang menderita, dan kebangkitan menjadi sumber harapan baru yang tidak akan padam.
Karena itu, keselamatan bukan hanya janji di masa depan, melainkan kenyataan yang terus berlangsung sekarang. Setiap kali kasih, keadilan, dan perdamaian diwujudkan, di sanalah kasih Allah bekerja. Saya menyadari bahwa keselamatan juga merupakan panggilan bagi saya pribadi untuk ikut ambil bagian dalam karya kasih Allah di dunia. Dengan meneladani Kristus yang mengasihi dan mengampuni, saya dipanggil menjadi rekan kerja-Nya dalam menghadirkan kasih yang menyembuhkan dan membebaskan. Melalui hidup sehari-hari, saya ingin menjadikan kasih Allah nyata bagi sesama, agar dunia semakin merasakan kehadiran-Nya yang menyelamatkan.
Comments
Post a Comment