Umat beriman kristiani adalah orang-orang yang melalui pembaptisan menjadi anggota tubuh Kristus, dijadikan umat Allah, dan dengan caranya sendiri masing-masing mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja. Setiap anggota, baik kaum awam, hierarki Gereja, maupun mereka yang mengikrarkan nasehat-nasehat injili, dipanggil untuk melaksanakan perutusan yang dipercayakan Allah kepada Gereja di dunia. Meskipun pelayanannya khas sesuai kedudukan masing-masing, semua tetap berfokus pada satu perutusan Gereja, yakni mewartakan kasih dan kehendak Allah.
Hierarki Gereja sekarang terdiri dari paus sebagai kepala, dewan para uskup, serta para imam dan diakon sebagai pembantu. Struktur ini belum ada secara eksplisit dalam Kitab Suci, yaitu peranan Petrus sebagai rasul tidak sama dengan kuasa dan kedudukan paus saat ini. Proses terbentuknya hierarki merupakan perkembangan dari hidup dan kegiatan Yesus, yang membentuk kelompok awal yang kemudian berkembang menjadi Gereja perdana. Dalam periode antara kebangkitan Yesus dan kemartiran St. Ignatius dari Antiokhia, prinsip-prinsip hierarki Gereja mulai terlihat, membentuk fondasi organisasi yang kita kenal sekarang.
Awal perkembangan hierarki dimulai dari kedua belas rasul yang mengikuti Yesus selama hidup-Nya. Setelah kematian Yudas Iskariot, kelompok ini disebut “kesebelasan,” meskipun istilah “keduabelasan” tetap digunakan sebagai tanda kelompok yang terkenal. Paulus pun disebut rasul karena telah melihat Yesus dan menjadi saksi kebangkitan-Nya, begitu juga Barnabas dan orang lain yang menjadi utusan Kristus. Dengan demikian, pengertian kerasulan melampaui kelompok dua belas rasul dan mencakup semua utusan yang diberi tugas mewartakan Injil.
Para rasul di Yerusalem, seperti Yakobus, Petrus, dan Yohanes, memiliki kedudukan dan wewenang khusus dalam jemaat. Paulus, yang berkarya di kalangan bangsa bukan-Yahudi, tetap menjaga hubungan dengan jemaat di Yerusalem sebagai tanda persekutuan. Tugas pokok para rasul adalah pewartaan Injil dan membimbing jemaat melalui karunia Roh Kudus. Setiap anggota jemaat memiliki tugas dan peranannya sendiri, yang dijalankan dengan karunia Roh, sehingga jemaat dapat hidup harmonis dan membangun satu tubuh Kristus.
Seiring berjalannya waktu, para penatua dan gembala mulai menggantikan beberapa fungsi rasul. Struktur Gereja semakin tertata untuk menghadapi ajaran sesat dan kebutuhan pengorganisasian yang lebih baik. Dewan para uskup kemudian menggantikan dewan para rasul, dengan paus sebagai kepala. Tugas hierarki adalah memastikan pewartaan Injil terus berjalan, membimbing jemaat, dan menjaga persatuan Gereja sepanjang masa, sehingga karya yang dimulai oleh para rasul dapat diteruskan secara konsisten hingga akhir zaman.
Perjalanan pelayanan umat beriman menunjukkan bahwa setiap anggota Gereja memiliki peran penting, dari rasul hingga jemaat modern. Setiap pelayanan bukan tentang kuasa atau jabatan, tetapi tentang membimbing dan mewartakan kasih Allah. Hal ini mengingatkan saya bahwa pelayanan iman adalah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan kesadaran dan kerendahan hati.
Sejarah hierarki Gereja mengajarkan bahwa struktur dan organisasi mendukung keberlangsungan pelayanan. Tanpa struktur yang jelas, pewartaan Injil dan pembinaan iman bisa mengalami hambatan. Saya menyadari bahwa kepemimpinan dalam Gereja adalah pelayanan yang didasari karunia Roh Kudus dan bukan semata-mata posisi atau wibawa manusia.
Pengalaman para rasul, terutama Paulus, mengajarkan pentingnya kerjasama dan kesatuan dalam pelayanan. Meskipun memiliki tugas berbeda, setiap rasul dan pengikut Kristus bekerja sama demi tujuan yang sama, mewartakan Injil dan membangun jemaat. Refleksi ini mendorong saya untuk menghargai setiap peran dalam Gereja, besar maupun kecil.
Akhirnya, memahami perjalanan pelayanan umat beriman menegaskan bahwa Gereja adalah tubuh Kristus yang hidup. Setiap anggota dipanggil untuk berkontribusi sesuai karunia masing-masing demi kebaikan seluruh jemaat. Refleksi ini menegaskan bahwa iman yang aktif diwujudkan melalui pelayanan yang tulus dan berkesinambungan, sehingga membangun persatuan dan kekuatan rohani bagi Gereja.
Comments
Post a Comment